Burung Layaran
Oky Primadeka
Minggu, 25 Mei 2014 Read more...
blog puisi oky primadeka
Oky Primadeka
Oky Primadeka
Pintu berderit saat udara malam bergerak perlahan,
menelusup ke dalam tulang terdalam sepasang pasangan
di hening hujan malam pertemuan.
Ada seberkas cahaya redup
rekat di lampu lampion,
menemani dingin yang telah lama mencari hangat
sebelum perpisahan mengurai air mata.
Dalam bahasa hati dan mata
leleh rindu yang membatu,
angin angan lagi tak bisu,
dan semua menyatu, satu.
Syahdan...
Di detik akhir pertemuan,
meski enggan si lelaki berkata, "Mungkin kutakkan kembali, tapi jangan
kaualirkan air dari sungai matamu."
Ia titipkan selembar sajak untuk kekasihnya
kisah yang terabadikan dalam kata
tentang perjumpaan Adam dan Hawa di Surga.
Ciputat,
Minggu, 11 Mei 2014
Oky Primadeka
Ibu, aku mengunjungimu kali pertama saat kaukandung
Maaf, aku nakal saat itu
Semringah gembira tendang-tendang perutmu
Ingin segera jumpa!
Ibu, aku mengunjungimu kali kedua saat kaulahirkan
Maaf, aku menangis liris saat itu
Urai air mataku basahi kujur tubuhmu
bahagia pandangi petikan-petikan senyum di indah lis bibirmu
Ibu, aku mengunjungimu kali ketiga saat kausekolahkan
Maaf, aku jarang telponmu
Sengaja, aku sedang menabung rindu
tiap malam kusisipkan dalam kulum tidurku
Ibu, dulu sering kaubercerita
tentang pelangi yang hobi kaupandangi
di pematang sawah saat kaumemanen padi
Katamu, "Nak, itu kado Tuhan untuk orang-orang desa."
Kauhadiahkan pula itu padaku
selepas kuyup hujan di ujung jembatan penyeberangan
Ibu, sekarang aku masih seperti dulu
kekanak-kanakan, ingusan
masih sering bergumam Ibu, Ibu, Ibu...
ketika tidur malam jahat menakutiku
mengirimkan surat-surat kelam dari kegelapan
Sengaja Ibu tak kuhilangkan itu
Bukan karena tak ingin cepat dewasa
tapi karena ingin lebih lama dimanjamu
Ibu, kasih sayang yang dulu kaulumurkan
saat kuberangkat sekolah
kembali pulang ke rumah
bermain gundu di halaman, dan
berpanas-panasan mencari belut di sawah
sesungguhnya sudah menjadi diriku
Aku adalah kasih sayangmu
Kasih sayangmu adalah aku
Ibu, aku ingat saat kecil
sepulang menjaring ikan
Tubuhku berlumur lumpur
Kaumarah tak pedulikan ikan tangkapanku
Kaumandikan aku sambil menghujankan deras pukulan
"Anakku, Ibu marah tak ingin kehilanganmu."
Aku diam
Coba mengerti tapi tak mengerti
Sekarang baru aku sadar
bahwa sadar itu sendiri takkan pernah sepenuhnya sadar
Ciputat,
Minggu, 20 April 2014
Oky Primadeka
Buat Neyza
Biarkan waktu yang ‘kan menjawab
Semua teka-teki keraguan kita
Sebab yakin bukan soal memaksa.
Adakah cinta yang ingin terlantar?
Adakah cinta yang ingin sendiri
Ketika sepi menegaskan diri?
Aku mendemamkanmu dalam rindu
Di tiap guguran malam yang memaksa pagi menimang fajar
Isak tangis hangatnya membuat tanah, air, dan udara pasrah.
Kautahu, aku menanam namamu di kebun pikiranku setahun lalu
Saat aku belum tahu betul cara menghafal sebuah nama dengan baik.
Kini, ia telah menjelma perdu rambati tubuhku seluruh.
Dan kautahu, sama sekali aku tak ingin lepas dari jeratnya, selamanya.
Ciputat,
Kamis, 17 April 2014
Oky Primadeka
Aku adalah pengunjung cermin yang setia
Setiap hari aku berkaca walau aku tahu
wajah yang muncul itu-itu saja, wajahku
Tapi tak masalah, sebab aku semakin tahu aku
*
Aku lihat rapuh melekat di tubuhku
Aku kelupas kulitnya walau tentu sakit
seperti kudis jijik yang setia pada kulit
Padahal ia terang mengingkarinya
*
Cermin adalah kejujuran yang terdalam
Pekerjaannya adalah setia pada kenyataan
tanpa ia minta gaji kepada pemilik tuan
Cermin tetap menjadi cermin
Ciputat,
Minggu, 30 Maret 2014
Oky Primadeka
Tak banyak jalan menuju rumah besar
di mana kita bisa cukup tenang tidur bersama istri dan anak
mengendapkan lelah yang ingin kita uraikan
pada selapis kasur dan bantal empuk berselimut
tanpa mengkhawatirkan atap yang mungkin saja bocor
saat hujan datang
Miris memang, kita tinggal di negeri yang katanya surga dunia
Namun ini bukan khayalan
yang semudah membalikkan telapak tangan bisa kita tepiskan
tanpa berhasrat untuk menyimpannya kembali pada file memori ingatan
Atau seperti kertas yang kita lipat-lipat saat masih kanak-kanak untuk membuat kapal-kapalan
kemudian dengan ikhlas kita hanyutkan ke sungai begitu saja
tanpa menyesalinya, tanpa mempertanyakan kapan kembalinya
Hidup di kota keras memang, seperti mendaki bukit yang tanpa kita tahu kapan kita akan sampai ke puncak
Kita manut kebutuhan yang justru kadang membuat alpa kewajiban
Kita lelah dalam penat yang ingin kita keluhkan tetapi enggan, untuk apa?
Orang-orang di stasiun kereta api riuh mengaduh
mengeluhkan jadwal pemberangkatan molor, penumpang berjejal sesak
Sebagian dari mereka memakai sepatu yang cukup tega
menginjak kaki orang lain walau tanpa sengaja
Syahdan...
Semua ini, jalan yang kita tempuh ini akan menjadi sebuah kisah
tentang titik, koma, tanda tanya, dan kawan-kawannya
tentang perjalanan kita menyusuri jalan setapak kehidupan
walau lelah, walau penat, akan berkembang
Ciputat,
Minggu, 09 Maret 2014
© Sepucuk Daun Blog Puisi Oky Primadeka by Ourblogtemplates.com 2014