Burung Layaran

Oky Primadeka

Mengapa kita masih menunggu senja yang sudah tentu akan
datang di pertengahan ketika musim menggugurkan daun-daun 
siang kepada bumi malam. Kita adalah burung yang sedang 
terbang mencari-cari bahan sarang yang nyaman di bising 
belantara hutan kehidupan supaya bisa pulang dengan tenang, 
teduh di bawah kelebat bendera senja menuju rangka perbukitan 
di seberang lautan.

Kita sering bertanya, seberapa kuatkah sarang kita nantinya
sebab mungkin sekali kibas angin yang kejam dengan seketika
menghempaskan sarang yang sudah kita bangun untuk anak
cucu. Kita sering khawatir, saat semua yang kita miliki satu
persatu hilang atau merapuh: mata yang tajam memandang, 
kicau suara yang merdu dan lantang, serta cengkeram kuat kaki 
kita atas bumi. Pada akhirnya, semua ditelan waktu, menghujan, 
merintik, lalu jadi kenangan.

Langit yang ramah adalah surga kehidupan bagi burung-burung 
camar di siang lautan, juga bagi kita di mana bulan sepenuh hati 
tersenyum terang menyelimutkan rasa tenteram di malam
tanggal-tanggal mudanya. Di mana bintang mengedip-
ngedipkan mata cahayanya, merasi format biduk 
yang menyimbolkan bahwa hidup adalah pelayaran.

Dan senja adalah bel bisu pulang kembali ke asal mula selepas 
berperjalanan berlayar mengarungi samudra-samudra. 
Kita harus ingat bahwa gemuruh ombak bergelombang adalah suara-
suara getir kehidupan yang mengabarkan dan menjadikan kita sebagai 
kita yang utuh. 

Sebelum kita benar-benar sampai di rumah labuhan, mari kita
tuliskan nama kita pada sebongkah batu. Semoga, anak cucu kita
mewarisi jiwa keberanian melebihi keras zamannya.  

Ciputat,
Minggu, 25 Mei 2014

Read more...

Angin Angan

Oky Primadeka

Pintu berderit saat udara malam bergerak perlahan,
menelusup ke dalam tulang terdalam sepasang pasangan
di hening hujan malam pertemuan.

Ada seberkas cahaya redup
rekat di lampu lampion,
menemani dingin yang telah lama mencari hangat
sebelum perpisahan mengurai air mata.

Dalam bahasa hati dan mata
leleh rindu yang membatu,
angin angan lagi tak bisu,
dan semua menyatu, satu.

Syahdan...
Di detik akhir pertemuan,
meski enggan si lelaki berkata, "Mungkin kutakkan kembali, tapi jangan
kaualirkan air dari sungai matamu."
Ia titipkan selembar sajak untuk kekasihnya
kisah yang terabadikan dalam kata
tentang perjumpaan Adam dan Hawa di Surga.


Ciputat,

Minggu, 11 Mei 2014

Read more...

Mengunjungi Ibu

Oky Primadeka

Ibu, aku mengunjungimu kali pertama saat kaukandung
Maaf, aku nakal saat itu
Semringah gembira tendang-tendang perutmu
Ingin segera jumpa!

Ibu, aku mengunjungimu kali kedua saat kaulahirkan
Maaf, aku menangis liris saat itu
Urai air mataku basahi kujur tubuhmu
bahagia pandangi petikan-petikan senyum di indah lis bibirmu

Ibu, aku mengunjungimu kali ketiga saat kausekolahkan
Maaf, aku jarang telponmu
Sengaja, aku sedang menabung rindu
tiap malam kusisipkan dalam kulum tidurku

Ibu, dulu sering kaubercerita
tentang pelangi yang hobi kaupandangi
di pematang sawah saat kaumemanen padi
Katamu, "Nak, itu kado Tuhan untuk orang-orang desa."
Kauhadiahkan pula itu padaku
selepas kuyup hujan di ujung jembatan penyeberangan

Ibu, sekarang aku masih seperti dulu
kekanak-kanakan, ingusan
masih sering bergumam Ibu, Ibu, Ibu...
ketika tidur malam jahat menakutiku
mengirimkan surat-surat kelam dari kegelapan
Sengaja Ibu tak kuhilangkan itu
Bukan karena tak ingin cepat dewasa
tapi karena ingin lebih lama dimanjamu

Ibu, kasih sayang yang dulu kaulumurkan
saat kuberangkat sekolah
kembali pulang ke rumah
bermain gundu di halaman, dan
berpanas-panasan mencari belut di sawah
sesungguhnya sudah menjadi diriku
Aku adalah kasih sayangmu
Kasih sayangmu adalah aku

Ibu, aku ingat saat kecil
sepulang menjaring ikan
Tubuhku berlumur lumpur
Kaumarah tak pedulikan ikan tangkapanku
Kaumandikan aku sambil menghujankan deras pukulan
"Anakku, Ibu marah tak ingin kehilanganmu."
Aku diam
Coba mengerti tapi tak mengerti
Sekarang baru aku sadar
bahwa sadar itu sendiri takkan pernah sepenuhnya sadar

Ciputat,
Minggu, 20 April 2014

Read more...

Demam Rindu

Oky Primadeka          

             Buat Neyza

Biarkan waktu yang ‘kan menjawab
Semua teka-teki keraguan kita
Sebab yakin bukan soal memaksa.
Adakah cinta yang ingin terlantar?
Adakah cinta yang ingin sendiri
Ketika sepi menegaskan diri?

Aku mendemamkanmu dalam rindu
Di tiap guguran malam yang memaksa pagi menimang fajar
Isak tangis hangatnya membuat tanah, air, dan udara pasrah.
Kautahu, aku menanam namamu di kebun pikiranku setahun lalu
Saat aku belum tahu betul cara menghafal sebuah nama dengan baik.
Kini, ia telah menjelma perdu rambati tubuhku seluruh.
Dan kautahu, sama sekali aku tak ingin lepas dari jeratnya, selamanya.

Ciputat,
Kamis, 17 April 2014


Read more...

Hening Malam

Oky Primadeka

Hening adalah kado terindah malam.
Kedip waktu yang membawamu ke dalam tenang
walau sejenak untuk istirahat dari murungnya siang.

Pernahkah kau bersetubuh dengan hening
yang padamu pelan ia bisikan kata-kata cinta
untuk kauingat selamanya?

“Selamat (kan) malam.”
“Selamat (kan) malam.”
“Selamat (kan) malam.”

Ciputat,
Minggu, 06 April 2014

Read more...

Cermin: Sebuah Profesi Untuk Setia Pada Kenyataan

Oky Primadeka

Aku adalah pengunjung cermin yang setia
Setiap hari aku berkaca walau aku tahu
wajah yang muncul itu-itu saja, wajahku
Tapi tak masalah, sebab aku semakin tahu aku

*
Aku  lihat rapuh  melekat di tubuhku
Aku kelupas kulitnya walau tentu sakit
seperti kudis jijik yang setia pada kulit
Padahal ia terang mengingkarinya

*
Cermin adalah kejujuran yang terdalam
Pekerjaannya adalah setia pada kenyataan
tanpa ia minta gaji kepada pemilik tuan
Cermin tetap menjadi cermin


Ciputat,
Minggu, 30 Maret 2014


Read more...

Akan Berkembang

Oky Primadeka

Tak banyak jalan menuju rumah besar
di mana kita bisa cukup tenang tidur bersama istri dan anak
mengendapkan lelah yang ingin kita uraikan
pada selapis kasur dan bantal empuk berselimut
tanpa mengkhawatirkan atap yang mungkin saja bocor
saat hujan datang

Miris memang, kita tinggal di negeri yang katanya surga dunia
Namun ini bukan khayalan
yang semudah membalikkan telapak tangan bisa kita tepiskan
tanpa berhasrat untuk menyimpannya kembali pada file memori ingatan
Atau seperti kertas yang kita lipat-lipat saat masih kanak-kanak untuk membuat kapal-kapalan
kemudian dengan ikhlas kita hanyutkan ke sungai begitu saja
tanpa menyesalinya, tanpa mempertanyakan kapan kembalinya

Hidup di kota keras memang, seperti mendaki bukit yang tanpa kita tahu kapan kita akan sampai ke puncak
Kita manut kebutuhan yang justru kadang membuat alpa kewajiban
Kita lelah dalam penat yang ingin kita keluhkan tetapi enggan, untuk apa?

Orang-orang di stasiun kereta api riuh mengaduh
mengeluhkan jadwal pemberangkatan molor, penumpang berjejal sesak
Sebagian dari mereka memakai sepatu yang cukup tega
menginjak kaki orang lain walau tanpa sengaja
Syahdan...
Semua ini, jalan yang kita tempuh ini akan menjadi sebuah kisah
tentang titik, koma, tanda tanya, dan kawan-kawannya
tentang perjalanan kita menyusuri jalan setapak kehidupan
walau lelah, walau penat, akan berkembang


Ciputat,
Minggu, 09 Maret 2014

Read more...

  © Sepucuk Daun Blog Puisi Oky Primadeka by Ourblogtemplates.com 2014

Log In