Demam Rindu

Oky Primadeka          

             Buat Neyza

Biarkan waktu yang ‘kan menjawab
Semua teka-teki keraguan kita
Sebab yakin bukan soal memaksa.
Adakah cinta yang ingin terlantar?
Adakah cinta yang ingin sendiri
Ketika sepi menegaskan diri?

Aku mendemamkanmu dalam rindu
Di tiap guguran malam yang memaksa pagi menimang fajar
Isak tangis hangatnya membuat tanah, air, dan udara pasrah.
Kautahu, aku menanam namamu di kebun pikiranku setahun lalu
Saat aku belum tahu betul cara menghafal sebuah nama dengan baik.
Kini, ia telah menjelma perdu rambati tubuhku seluruh.
Dan kautahu, sama sekali aku tak ingin lepas dari jeratnya, selamanya.

Ciputat,
Kamis, 17 April 2014


Read more...

Hening Malam

Oky Primadeka

Hening adalah kado terindah malam.
Kedip waktu yang membawamu ke dalam tenang
walau sejenak untuk istirahat dari murungnya siang.

Pernahkah kau bersetubuh dengan hening
yang padamu pelan ia bisikan kata-kata cinta
untuk kauingat selamanya?

“Selamat (kan) malam.”
“Selamat (kan) malam.”
“Selamat (kan) malam.”

Ciputat,
Minggu, 06 April 2014

Read more...

Cermin: Sebuah Profesi Untuk Setia Pada Kenyataan

Oky Primadeka

Aku adalah pengunjung cermin yang setia
Setiap hari aku berkaca walau aku tahu
wajah yang muncul itu-itu saja, wajahku
Tapi tak masalah, sebab aku semakin tahu aku

*
Aku  lihat rapuh  melekat di tubuhku
Aku kelupas kulitnya walau tentu sakit
seperti kudis jijik yang setia pada kulit
Padahal ia terang mengingkarinya

*
Cermin adalah kejujuran yang terdalam
Pekerjaannya adalah setia pada kenyataan
tanpa ia minta gaji kepada pemilik tuan
Cermin tetap menjadi cermin


Ciputat,
Minggu, 30 Maret 2014


Read more...

Akan Berkembang

Oky Primadeka

Tak banyak jalan menuju rumah besar
di mana kita bisa cukup tenang tidur bersama istri dan anak
mengendapkan lelah yang ingin kita uraikan
pada selapis kasur dan bantal empuk berselimut
tanpa mengkhawatirkan atap yang mungkin saja bocor
saat hujan datang

Miris memang, kita tinggal di negeri yang katanya surga dunia
Namun ini bukan khayalan
yang semudah membalikkan telapak tangan bisa kita tepiskan
tanpa berhasrat untuk menyimpannya kembali pada file memori ingatan
Atau seperti kertas yang kita lipat-lipat saat masih kanak-kanak untuk membuat kapal-kapalan
kemudian dengan ikhlas kita hanyutkan ke sungai begitu saja
tanpa menyesalinya, tanpa mempertanyakan kapan kembalinya

Hidup di kota keras memang, seperti mendaki bukit yang tanpa kita tahu kapan kita akan sampai ke puncak
Kita manut kebutuhan yang justru kadang membuat alpa kewajiban
Kita lelah dalam penat yang ingin kita keluhkan tetapi enggan, untuk apa?

Orang-orang di stasiun kereta api riuh mengaduh
mengeluhkan jadwal pemberangkatan molor, penumpang berjejal sesak
Sebagian dari mereka memakai sepatu yang cukup tega
menginjak kaki orang lain walau tanpa sengaja
Syahdan...
Semua ini, jalan yang kita tempuh ini akan menjadi sebuah kisah
tentang titik, koma, tanda tanya, dan kawan-kawannya
tentang perjalanan kita menyusuri jalan setapak kehidupan
walau lelah, walau penat, akan berkembang


Ciputat,
Minggu, 09 Maret 2014

Read more...

Suara Pasir

Oky Primadeka

Kuingat setiap jejak yang entah sengaja atau tidak
menjadi bagian tubuhku yang selalu pasrah
Kuingat setiap petikan suara yang mengendap ruai
untuk kemudian kujadikan sebuah risalah

Tapi siapa aku sebenarnya?
Apakah pawana yang dibiar-lalukan pohon
Apakah hujan yang rinainya luruh bersama hening
Atau kah hanya sebutir nasi yang tak pernah protes kala terlupa

Untuk apa semua ini?
jika suara-suara itu tak pernah berbuah hikmat
Saat malam nanti aku ‘kan bersuara melawan sepi
kepada pantai yang bersaksi bahwa aku tak pernah memasalahkannya

Ciputat,

Minggu, 02 Maret 2014

Read more...

Aku Penyenang

Oky Primadeka


Di setiap helaian waktu tersematkan padaku
dahan, ranting, daun, pucuk, bunga, dan buah
Di dingin yang dikibaskan malam tetap menjadi seutuhnya aku
dahan, ranting, daun, pucuk, dan buah
Aku lupa, sekarang baru kusebut akar, inti

Setiap pagi kudengar sepasang burung nuri
elok warna dan merdu suaranya mencuit
Aku ingat betul saat mereka dalam gugup mengecup gigit
buahku yang belum ranum
“Asem,” celetuk mereka.
“Haha, itu akibat enggan taat pada waktu,” ejekku.

Aku adalah setia yang ditelan sepi
Seperti embun yang kehilangan pagi
aku sendiri dalam hening sunyi musim hujan
Namun, aku sadar kuhidup dalam dekapan
Aku belajar tentang erat dan renggang, hangat dan dingin
hingga kuputuskan untuk setia pada sekujur tubuh alam

Kutancap niat ke pusat bumi
Kuteguhkan diri walau takkan sampai ke langit
Kutarikan daun yang mendesau sepanjang pagi
Dan kupajang buah kudapan pada etalase alam
Silakan, sepuasnya, aku penyenang

Esok yang kuigaukan
selalu tiba dengan sejumput asa
membawa untaian benang-benangnya
Aku rajut tekun agar indah kain yang ‘kan
kupersembahkan, padamu, sekalian tujuan
Tak masalah aku mati ditelan sepi
Aku penyenang

Ciputat,
Jumat, 14 Februari 2014




Read more...

Jendela Cinta

Oky Primadeka


Cinta itu seperti jendela
Kalau kita lupa membukanya
takkan ada angin bertamu
membawa sebingkis sejuk
mengobati sepinya jiwa

Cinta itu seperti jendela
Kalau kita lupa menutupnya
maka angin masuk menusuk
pori-pori kulit kehidupan kita
Tutuplah, agar gigil tak memanggil

Cinta itu seperti jendela
Pandai-pandai kita menutup-membukanya
          Agar seimbang
                   Agar seimbang

Ciputat,
Minggu, 09 Februari 2014

Read more...

  © Sepucuk Daun Blog Puisi Oky Primadeka by Ourblogtemplates.com 2014

Log In