Tenggelam di Matamu

Oky Primadeka

Saat aku menatapmu
berarti ku sedang menenggelamkan mataku ke dalam lautan matamu.
Di sana ada sakit menunggu namun belum tentu.
Di sana ada suka menanti tetapi tak pasti.
Tenggelam adalah rasa suka yang belum terungkapkan
sampai kata menyembur keluar. Menampakkan dirinya
sebagai anak rahasia yang tersimpan dalam dada.
Ia lahir sebagai tanda-tanda
tanpa makna sebelum makna itu sendiri menemukan dirinya.

Ciputat,
Minggu, 20 Oktober 2014

Read more...

Izinkan Mereka

Oky Primadeka

Deretan kata-kata itu
sengaja kususun di kamar pikiranmu.
Izinkan mereka istirahat sejenak
dan paginya bangunkan kuyup matamu.
Karena lelah adalah pengertian yang sesungguhnya
dari getir yang ditepiskan lalu.

Ciputat,
Rabu, 15 Oktober 2014

Read more...

Tunggu Pulang

Oky Primadeka

Tunggu saatku pulang.
Kan kugendong dirimu
sampai ke ranjang.

Ciputat,
Senin, 29 September 2014

Read more...

Izinkan Aku

Oky Primadeka

Izinkan aku berenang-renang di kolam matamu!

Ciputat,
Selasa 17 Juni, 2014

Read more...

Pada Matamu

Oky Primadeka

Pada matamu kulihat kupu-kupu.
Warnanya teduh
tebarkan rindu.

Ciputat,
Sabtu, 27 September 2014

Read more...

Sungai Rindu

Oky Primadeka

Hujan berhenti bekerja.
Sungai kehilangan nadi rezekinya.
Meski begitu, rindu doa daun-daun randu
terus menerpa langit yang mengandung mendung.
Dus! Pecah juga kandung mendungnya.

Ciputat,
Rabu, 10 September 2014


Read more...

Suatu Sore

Oky Primadeka

Matahari benar-benar sudah mengantuk
sedang ilalang masih sekuat tenaga
menegakkan lutut-lututnya yang kering.
Dua bayangan tanpa nama
menaruh nasibnya di atas pundak angin
yang rapuh.

Lalu mereka?
akankah kembali muncul
terkait pada batang pohon
yang meronta-ronta haus
di musim kemarau?

Dingin yang ganas segera turun dari gunung
suatu sore.
adalah barangkali gelap yang 'kan tiba
tiba-tiba malu, lalu batal bersegera.

Ciputat,
Rabu, 3 September 2014

Read more...

  © Sepucuk Daun Blog Puisi Oky Primadeka by Ourblogtemplates.com 2014

Log In